Kamis, 15 Desember 2011

daerah belu


A. Perkampungan di Belu (Belu Selatan)
a. Umato’os
Keaslian pola perkampungan kampung adat Umato’os masih bisa di rasakan sampai sekarang.  Bentuk pola perkampungan pada kampung adat Umato’os berpola menyebar hal ini terlihat dari posisi-posisi bangunan yang menyebar di dalam kawasan kampung adat Umato’os. Meskipun berpola menyebar, kampung adat Umato’os tetap mengorganisir masa-masa bangunannya pada sebuah orientasi masa bangunan  perkampungan yaitu pada kuburan nenek moyang mereka yang diilhami sebagai bentuk rasa hormat dan bakti kepada roh-roh nenek moyang mereka, yang oleh masyarakat setempat di sebut sadan atau kubur nenek moyang.

Pada kampung adat umato’os perletakan masa bangunan di tentukan oleh seorang tuan tanah yang adalah seseorang dato atau pemangku adat di kampung adat umato’os yang sangat di hormati dan di hargai serta mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan masalah kesukuan perkampungan. Oleh Karena posisi masa bangunannya di tentukan oleh tuan tanah maka jarak dan posisi antar bangunan relatif atau tidak ada kepastian jarak, Dari hasil onservasi lapangna yang di lakuakan jarak antar bangunan berkisar antara 5 – 10 M.  Ke tidak pastian jarak ini juga menjadi salah satu pemicu ke tidak teraturan masa pada kawasan perkampungan kampung adat Umato’os.

Dinamika perkembangan pola perkampungan sekarang tidak terlalu signifikan hal ini di tandai dengan adanya pertumbuhan penduduk sehingga penyebaran pola pekampungan menyebar ke luar kampung. Tetapi orientasi bangunan masih mengarah ke pelataran sebagai inti tersuci di mana umatos sebagai penyatu masyarakat adat umato’os.
·           Unsur-unsur dalam tapak
v Bangunan Megalitik
Bangunan megalitik yang menjadi inti tersuci dalam pola perkampungan umato’os keberadaan dan fungsi masih di pertahankan yaitu sadan (kuburan nenek moyang masyarakat adat Umato’os) dan tiang Airudun (tiang suci). Halikual ini di pengaruhi oleh kepercayaan masyarakat Umato’os akan ke hadiran roh nenek moyang dalam perkampungan.
v Airudun

      

Airudun merupakan lambang atau simbol bagi suku pendatang. Fungsi dan keberadaannya  masih di pertahankan sebagai tiang suci suku pendatang, karena gagasan dalam budaya Umato’os setiap suku harus memiliki tiang suci sebagai perletakan  persembahan bagi para roh leluhur (Matabian).

v Kuburan
Kuburan (Sadan) merupakan megalitik sebagai penghormatan bagi orang yang meninggal yang keberadaannya masih dalam perkampungan karena kepercayaan mayarakat umato’os yang meyakini roh yang meninggal akan tetap menyatu dengan mereka. Peralihan bentuk dan material dari sadan yaitu material batu alam di ganti dengan keramik dan semen.
b. Umalor
Pola perkampungan adat Umalor yang adalah kampung adat raja (na’in)  masih terlihat asli seperti sediakala. Bangunan yang di organisir dengan baik dengan orientasi bangunan menghadap ke kubur nenek moyang sebagai salah satu wujud bakti dan rasa hormat masyarakat kepada roh nenek moyang. Fungsi dan pola pemukiman pun masih eksis sampai sekarang yakni, sebagai tempat penyelenggaraan ritual adat, kontak sosial masyarakat dan penyelenggaraan hidup bagi keluarga kerajaan. Seiring dengan perkembangan waktu dan zaman perubahan yang di akibatkan oleh faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk, perkembangan Iptek, dan infrastruktur jalan memberi sedikit perubahan pada pola perkampungan. Pola perkampungan Umalor tidak mempunyai batasan terukur yang pasti karena beberapa alasan mengenai kepentingan sosial dan adat kampung umalor.

o    Unsur-unsur dalam tapak
®    Pohon pemali (ailulik)


Merupakan jenis pohon beringin yang sudah hidup sejak adayan kerajaan umalaor. Dipercaya sebagai pohon yang mempunyai kekuatan gaib. Di bawah pohon ini juga sering di jadikan sebagai sarana kontak sosial atau sering di jadikan tempat berkumpul dan rapat yang berhubungan dengan masalah adat di kerajaan Umalor.

®    Pelataran Terbuka


Dalam site / tapak  terdapat ruang terbuka yang difungsikan sebagai ruang tamu dan tempat pertemuan apabila ada rapat kerajaan.
Ada beberapa larangan yang terdapat dalam kompleks kerajaan tersebut yaitu : tidak boleh jatuh ataupun menjatukan barang bawaan yang dibawa dalam kompleks kerajaan tersebut apabila sedang dilakukan upacara adat, apabila bila menjatuhkan barang bawaan atau jatuh dalam kompleks tersebut harus melakukan upacara adat tersendri.
®    Bangunan Megalitik
Dalam pola tapak, keberadaan bangunan megalitik menjadi bagian dari kampung adat. keberadaan megalitik pada kampung adat umalor menjadi simbol dan media yang di percaya sebagai penghubung antara manusia (masyarakat Umalor) dengan leluhurnya. Ada beberapa bangunan megalitik yang terdapat pada pola tapak kampung umalor di antaranya :
-      Batu Pemali (fatuk lulik)


Batu pemali ini merupakan simbol dari kehadiran raja-raja liurai keraton. Batu-batu ini berjumlah 7 batu yang di susun berderetan. Menurut informasi yang di peroleh perletakan batu ini merupakan penanda bahwa sebelumnya di bawah batu ini dulunya terdapat kubur raja-raja terahulu namun karena adanya bencana banjir kubur-kubur itu tertutup oleh lumpur bekas banjir sehingga kehadiran batu-batu ini sebagai penanda kubur-kubur tersebut.
-     Kubur
kubur pada pola perkampungan di jadikan sebagai orientasi masa bangunan. Kubur pada kampung adat Umalor terdapat dua bagian yang terpisah, antara raja sendiri dan keluarga raja.


Dalam perkembangannya kubur  di kampung adat Umalor ini mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan-perubahan yang terjadi seperti pada penggunaan material, yang dulunya menggunakan tumpukan batu sekarang sudah menggunakan kermik dan semen dan pada perubahan bentuk, dulunya hanya di tumpuk batu-batu yang alami sekarang lebih rapi karena penggunaan material keramik. Tetapi dari segi fungsi kubur ini tidak mengalami pergeseran fungsi sama sekali.

B. Rumah Adat di Daerah Belu
a. Umato’os
Secara keseluruhan perubahan atau dinamika perkembangan arsitektur vernakular Umato’os dapat di jabarkansebagai berikut :

*      Rumah Adat
Rumah adat pada kampung adat umato’os yang di pandang sebagai rumah pemali yang masih di pengaruhi oleh falsafah, norma, dan gagasan dari leluhur  yang secara turun temurun di lestarikan nilai-nilai budayanya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Rumah pemali pada kampung adat umato’os terdiri atas 4 yaitu umaluhalek, umaloolitas, umasukabi, uma foun.

Keberadaan rumah-rumah adat ini masih asli sejak dulu sampi sekarang hanya saja sedikit terjadi perubahan pada bentuk yang asli pada bangunan karena adanya bencana banjir yang besarpada tahun 2000 yang lalu yang menyebabkan tingginya permukaan tanah. Konsep bangunan rumahpemali  ini dulunya berbentuk bangunan ruma berkolong setelah banjir melanda seluruh kawasan wilyah perkampungan,kawasan perkampungan ini di penuhi lumpur bekas banjir sehingga terjadi ketinggian tanahyang menutupi  sebagian kolong banngunan.

Di lihat dari segi fungsi rumah-rumah adat tersebut tidak mengalami pergeseran fungsi sama sekali sejak dulu sampai sekarang. Berikut di jabarkan rumah-rumah pemali Umato’os :

*      Uma Luhalek

 

Secara fungsi uma luhalek ini tidak mengalami pergeseran fungsi sama sekali dan material yang di gunakannya pun masih asli. Bentuk bangunan sedikit berubah pada ketinggian bangunan yang di sebabkan oleh banjir.

*      Uma loolitas

*      Secara fungsi uma loolitas ini juga tidak mengalami pergeseran fungsi. Sejak dahulu bangunan rumah ini ditempati oleh para dato-dato Tamiru di kampung umato’os. Material yang di gunakan pun masih asli tanpa perubahan sama sekali. Bentuk bangunan juga mengalami perubahan pada tinggi bangunan yang juga di akibatkan oleh bencana banjir.

*      Uma Foun



Bentuk bangunan Uma Foun ini masih eksis, tinggi bangunan Uma Foun ini juga masih asli di mana terdapat kolong pada bagian bawah rumah. Fungsi kolong pada bagian bangunan inidulunya adalah tempat atau ruang tenun para wanita kampung adat Umato’os.

*      Uma Sukabi
Uma Sukabi juga merupakan rumah tempat tinggal Dato Tamiru. Fungsi bangunan ini masih asli dan eksis sebagai rumah pemali kampung  adat Umato’os.
*      Rumah Tinggal Biasa
Perkembangan (dinamika) bangunan rumah tinggal masyarakat umato’os menunjukan perkembangan yang cukup siknifikan baik dari matrial, maupun pola ruang.  Secara umum perubahan atau dinamika perkembangan arsitektur rumah tinggal masyarakat umato’os di picu oleh beberapa fakto yang mendasar antar lain :
-       Meningkatnya jumlah penduduk yang membutuhkan tempat tinggal.
-       Adanya pembanguan jalan lingkungan.
-       Adanya Pandangan masyarakat tentang rumah sebagai gambaran status sosial.
Perubahan-perubahan pada bangunan rumah tinggal kampung Umato’os dapat di kelompokan dalam 2 kategori yaitu :
a.         Fungsi bangunan dan bentuk tetap, bahan berubah.
b.        Fungsi bangunan tetap bentuk dan bahan berubah.

ª  Fungsi bangunan dan bentuk tetap, bahan berubah.

ª  Fungsi bangunan tetap, bentukdan bahan berubah


Perubahan bentuk dan bahan pada bangunan rumah tinggal kampung adat Umato’os ini terlihat cukup signifikan. Perubahan material dari bahan atap daun gewang ke atap dari bahan seng dan dinding yang sudah menggunakan bahan bebak menggambarkan satu revolusi bentuk yang sangat signifikan.
Bangunan-bangunan rumah tinggal yang mengalami perubahan ini di tempatkan pada pingiran kawasan kampung adat Umato’os sehingga keberadaannya tidak mengganggu bangunan rumah adat. 
angan “image” masyarakat dewasa ini. Dinamika atau perubahan  perkembangan arsitektur Umato’os ini khususnya rumah tinggal di pengaruhi oleh beberapa kecendrungan, yaitu :
*      Adaptasi terhadap perkembangan dunia masa kini, yakni penggunaan material baru nonlokal ketimbang menggunakan material lokal yang ada.
*      Peralihan status sosial-ekonomi masyarakat, yang berdampak pada gaya atau trend sebagai pandangan ‘’Image’’ masyarakat dewasa ini.
b.      Umalor
Kawasan pemukiman pada kampung adat umalor merupakan kawasan istana yang di tempati oleh raja suku Umalor. Banguna pada kawasan istana ini ada 2 bangunan yang merupakan tempat yang di sakralkan. Ke dua bangunan tersebut adalah Umalor dan aikabelak. Kedua bangunanin juga mempunyai fungsinya masing-masing.
Ø  Rumah adat Umalor
*             Tafatik Umalor

Tafatik Umalor merupakan rumah tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang di sakralkan. Bentuk, fungsi serta material bangunan Umalor ini tetap eksis dan konsisten sejak masa lalu hingga sekarang ini. Sejarah panjang mengnai kampung adat umalor menceritakan bangunan ini adalah bangunan pertama yang di temukan oleh para nenek moyang masyarakat Umalor yang datang dan langsung menempati bangunan ini dan di beri nama umalor. Bangunan ini sudah tampak lapuk termakan usia dan zaman, tetapi nilai-nilai budaya yang luhur masih tetap tertanam kokoh. Menurut informasi yang di dapat dari hasil observasi lapangan untuk merenofasi bangunan ini harus melakukan ritual adat tertentu, Selain itu, ada material yang tidak sembarang di gunakan, seperti empat tiang bangunan yang kayunya di ambil di hutan di kabupaten soe yang oleh masyarakat setempat di sebut kayu aksisi. Rumitnya prosedur perenofasian bangunan ini menjadikan bangunan ini sangat sulit di renofasi hingga sekarang.
Betuk bangunan ini dulunya merupakan bangunan dengan konsep bangunan berkolong setelah terjadinya bencana banjir yang besar dan bertambahnya ketinggian tanah maka bangunan ini menjadi terlihat pendek. Bangunan umalor ini di percaya oleh masyarakt setempat sebagai bangunan tersuci.  bangunan ini menyimpan banyak aurh-aurah kemistikan yang di percaya oleh masyarakat Umalor dapat memberi kekuatan supranatural.  Karena terkenal dengan mistiknya bangunan ini banyak di kunjungi oleh orang yang ingin sukses dalam usahanya.

*             Aikabelak

Aikabelak adalah rumah tempat tinggal kelurga raja Umalor. Aikabelak ini merupakan rumah tempat penyelenggaraan ritual-ritual adat masyarakat umalor, juga sebagai tempat bersalin, dan tempat untukmenerima tamu kerajaan . Bentuk fungsi, dan material bangunan ini juga masih eksis dan konsisten dari dulu hingga sekarang ini.

Untuk melaksanakan ritual adat pada kampung adat umalor baik masyarakat umalor itu sendri maupun tamu yang datang harus membawa persembahan yang di persembahkan untuk raja. persembahan-persembahan itu di bawah ke rumah Aikabelak dan di simpan dan di olah untuk di konsumsi  bersama pada saat penyelenggaraan ritual adat.
C. Kesamaan dan perbedaan arsitektur bangunan Umalor dan Umato’os.

a.      Perbedaan
Perbedaan kampung Adat Umato’os dan Umalor secara spesifk Sebagai berikut :
                Perbedaan pada fisik  bangunan

Perbedaan fisik bangunan pada kampung adat Umato’os dan Umalor tidak terlalu siknifikan, perbedaannya bisa dilihat dari:
·           pintu depan sebagai akses utama uma laran (ruangdalam) pada kampung Adat Umayo’os dan Umalor yang tampak beda ukurannya.
·           Labis leten pada kampung adat umato’os tertutup oleh didnding (tambani kakes) bangunan sedangkan pada bangunan adat kampung umalor terbuka.
·           Pada kampung adat umatos di atas labis leten terdapat plafon yang berfungsi sebagai penyimpan hasil panen yang nantinya akan di persembahkan untuk raja.
·           Pada ruang bersalin bangunan Kampung Adat Umalor terdapat panyak pengeksposan ragam hias yang bertujuan untuk sedikit pemberi beda antara rumah raja Umalor dan rumah raja luar Umato’os.
·           Fungsi bangunan umato’os adalah sebagai lumbung atau penyimpan hasil panen suku Umato’os yang nantinya di persembahkan untuk raja, sedangkan fungsi Bangunan Adat Umalor sendiri adalah rumah tempat tinggal raja.
·           Pada pintu masukutama bangunan Adat Umalor terdapat simbol kerajaan Umalor yang berbentuk burung (kikit sauroan) sedangkan pada bangunan kampung adat Umalor tidak ada.


5.3.2.        Persamaan kampung Adat Umato’os Dan Umalor
                      Persamaan fisik Bangunan
·         Tampilan bangunan secara visual
·         Bentuk atap menyerupai perahu terbalik.
·         Atap tritisan di sama-sama di buat rendah agar orang yang masuk kedalam bangunan Kampung Adat Umato’os dan Umalor menundukan kepalanya sebagai wujud rasa hormat kepada raja.
·         Orientasi bangunan Kampung Adat Umato’os dan Umalor sama-sama menghadap kubusan (sadan).
·         Pada Kampung Adat Umato’os dan Umalor sama-sama mempunyai altar ritual dalam bangunan yang di letakkan pada samping kiri pintu masuk umalaran (ruang utama bangunan).
·         Konsep bangunan Sama-sama berkonsep rumah panggung.
·         Sama-sama masih konsiten dalam penggunaan material bangunan.

D.    Administratif Dan Geografis
                 Secara georafis Kabupaten Belu terletak pada koordinat 124″35’ –126″12’ Bujur Timur dan 8″57’ – 9″49’ Lintang Selatan.

 





Secara geografis batas-batas wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara                            :  Selat Ombay
Sebelah Selatan             :  Laut Timor
Sebelah Barat                            :  Kabupaten TTU dan TTS
Sebelah Timur                :  Negara Republic Democtratic Timor Leste (RDTL)
Luas administratif Kabupaten Belu adalah 2.445,57 Km2.

E.     Fisik Dasar (iklim, cuaca, topografi, geologi, vegetasi)
Ø  Klimatologi
Secara umum Kabupaten Belu beriklim kering (semiarid), dengan musim hujan yang sangat pendek dengan temperatur udara berkisar 21,5 0 – 33,7 0 C dan temperatur udara rata-rata sekitar 27,6 0C. Temperatur udara tertinggi 33,7 0C terjadi pada Bulan Nopember, sedangkan temperatur udara terendah 21,50 terjadi Bulan Agustus.

Biasanya hujan turun  antara Bulan Desember sampai Bulan  Maret, sedangkan kemarau berlangsung  antara Bulan April sampai Bulan November. Curah hujan di Kabupaten Belu tahun 2005 sebesar 10.903 mm, dengan angka rata-rata curah hujan untuk setiap stasiun sebesar 727 mm. Rata-rata hari hujan 40 hari/tahun, stasiun Haekesak (Raihat) mencatat jumlah hari hujan terbesar, yaitu 97 hari hujan sedangkan terendah di tercatat di stasiun Wemasa (Kobalima) sebesar 19 hari hujan.
Ø  Topografi
Keadaan topografi Kabupaten Belu dapat dikelompokan atas beberapa  kelompok  berdasarkan ketinggian  tempat diatas permukaan laut. Keadaan topografi  Kabupaten Belu dirinci seperti berikut di bawah ini :
v  Ketinggian   0       230 m dpl seluas 98,349 Ha (40,12 %)
v  Ketinggian   230  – 500 m dpl seluas 95,958 Ha (39,12 %)
v  Ketinggian   500  – 750 m dpl seluas 30,710 Ha (12,56 %)
v  Ketinggian   750  – 1000 m dpl seluas 17,240 Ha (7,03 %)
Ø  Karakteristik Tanah
Wilayah Kabupaten Belu terbentuk oleh 4 jenis tanah antara lain tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di bagian selatan wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah Litosol yang memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai sedang dan tersebar di seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran Mediteran, Renzina dan Litosol yang bersifat porous tersebar di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.
Kondisi fisik tanah di Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari :
v  Kedalaman Efektif Tanah
v  0 – 30 cm seluas 21.191 Ha (8,67%)
v  30 – 60 cm seluas 28.204 Ha (11,53%)
v  60 – 90 cm seluas 3.840 Ha (1,57%)
v  90 cm seluas 191.322 Ha (78,23%)
Ø  Tekstur Tanah
v  Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1,88%)
v  Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84,79%)
v  Tekstur kasar seluas 32.597 Ha (13,33%)
Ø  Drainase
v  Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95,53%)
v  Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2,78%)
v  Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1,69%)
Ø  Erositas
v  Tidak erosi seluas 171.245 Ha (70,02%)
v  Ada erosi seluas 73.312 Ha (29,98%)
Ø  Hidrologi
Air tanah yang ada terdiri dari air tanah bebas dan air tanah tertekan. Air tanah bebas umumnya dangkal dan mengikuti kondisi morfologinya, sedangkan air tanah tertekan terletak jauh di dalam tanah dengan lapisan kedap air. Pada setiap kecamatan di Kabupaten Belu banyak dijumpai air tanah tertekan. Sedangkan air tanah bebas umumnya terdapat didaratan dekat pantai pada endapan alluvial dan dekat dengan permukaan tanah.
Sumber : BAPPEDA Kab.Belu dan pde@belukab.


F.   Ekonomi, Sosial Budaya
·         Ekonomi
Kabupaten Belu dengan luas wilayah 2.445,57 km2, dengan jumlah penduduk 362.191 jiwa, dan tingkat kepadatan penduduk 148 jiwa/km2, merupakan sumber daya pembangunan. Dengan jumlah penduduk yang relatif banyak, dan tingkat kepadatan yang relatif padat, memberi peluang untuk dapat memanfaatkan setiap potensi ekonomi yang ada di Kabupaten Belu, dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarkat.
Sebagai akibat dari adanya peluang dan pemanfaatan setiap sumber daya ekonomi yang ada di Kabupaten Belu, maka pendapatan regional yang dihasilkan terus meningkat dari tahun ke tahun, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan perkapita penduduk. Pendapatan perkapita Kabupaten Belu pada tahun 2008 mencapai Rp. 1.974.446,- sedangkan pada tahun 2009 sebesar Rp. 2.552.665,- .
Dengan meningkatnya pendapatan perkapita Kabupaten Belu tentu di tunjang dengan segala fasilitas sarana dan prasarana yang menjadi tiang penyangga perekonomian.Dan itu terlihat dengan adanya aturan – aturan yang menjadi tolak ukur pendapatan daerah yaitu sistem perijinan yang menjadi pemasukan daerah dari masyarakat kepada pemerintah.
·         Sosial Budaya
          Suku bangsa yang mendiami Kabupaten Belu ada 4 suku yaitu, Suku Tetum, Suku Dawan, Suku Kemak, dan Suku Bunak (Marae) dan kesemuanya mempunyai bahasa sendiri-sendiri yang nama bahasa tersebut sama dengan nama sukunya. Daerah kabupaten Belu pada umumnya terdiri atas daratan bukit dan pegunungan serta hutan. Daerah Belu tergolong daerah yang curah hujannya sedikit  yang secara tidak langsung iklim tersebut mempengaruhi pola hidup dan watak keseharian masyarakat        Belu. Tempat tinggal orang-orang Belu dahulunya banyak berada di daerah perbukitan yang dikelilingi oleh semak berduri dan batu karang yang tidak mudah didatangi orang dan hidup secara berkelompok, dengan maksud untuk menjaga keamanan dari gangguan orang luar maupun binatang buas.

    Rumah asli penduduk Belu bernama Lopo, yaitu rumah yang berbentuk seperti kapal terbalik dan ada yang seperti gunung.Atapnya menjulur ke bawah hampir menyentuh tanah. Dinding rumah terbuat dari Pelepah Gewang, biasa disebut Bebak, tiang-tiangnya terbuat dari kayu-kayu balok, sedang atapnya dari daun gewang. Di bagian dalam rumah dibagi menjadi dua ruangan yaitu bagian luar diberi nama Sulak , untuk ruang tamu , tempat tidur tamu , dan tempat anak-anak laki-laki dewasa. Pada bagian dalam disebut Nanan , yaitu tempat untuk tidur keluarga dan tempat makan Sebelum pengaruh agama masuk ke daerah ini masyarakat di sini sudah mempunyai kepercayaan kepada Sang Pencipta, Sang Pengatur, yang biasa mereka sebut dengan Uis Neno, Dewa Langit dan Uis Afu, Dewa Bumi.
G.    Potensi Wisata Kabupaten Belu
Potensi pariwisata di kabupaten Belu cukup dapat diandalkan untuk menarik minat wisatawan lokal maupun asing. Pesona obyek-obyek wisata yang ada memiliki daya tarik masing-masing. Wisatawan yang berkunjung sudah tentu memperoleh kesan tersendiri saat melihat keindahan obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Belu ini. Berbagai jenis wisata di kabupaten Belu antara lain :

a.      Obyek Wisata Alam
Tabel 3.2
No
Nama Obyek Wisata
Lokasi
Jalur-jalur serta Central Point Perjalanan Wisatawan
1
2
3
4
1.
Kawasan Pantai Utara





1
Teluk Gurita
-
Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak
-
Dari Atambua 17 km arah Barat

2
Pantai Aufuik

3
Kolam Susuk


4
5
Dermaga Atapupu
Pantai Sukaerlaran
-
-
Desa Jenilu Kecamatan Kakuluk Mesak
Desa Kenebibi Kecamatan Kakuluk Mesak
-
-
Dari Atambua 20 km arah Utara
Dari Atambua 24 km arah Utara

6
Pantai Pasir Putih
-
Desa Kenebibi Kecamatan
-
Dari Atambua 23 km arah




Kakuluk Mesak

Utara


7
8
Pantai Motaain (Perbatasan Timor Leste)
Air Terjun Lesutil
-
-
Desa Silawan Kecamatan Tasifeto Timur
Desa Dirun Kecamatan Lamaknen
-
-
Dari Atambua 28 km arah Utara
Dari Atambua 35 km arah Utara

9
Air Terjun Mauhalek
-
Desa Dualasi Raiulun Kecamatan Lasiolat
-
Dari Atambua 32 km arah Timur

10
Panorama Gunung Lakaan
-
Desa Dirun, Desa Mandanu Kecamatan Lamaknen
-
Dari Atambua 28 km arah Timur

2.
11
Bendungan Haleleki Holleki
-
Desa Lamaksenulu Kecamatan Lamaknen
-

Dari Atambua 50 km arah Timur


Kawasan Pantai Selatan







1
2
3
4
5
Pantai Masin Lulik
Kolam Weluli
Kolam Saluhu
Teluk Hasan Maubesi
Pantai Motadikin
-
-
-
-
Desa Litamali Kecamatan Kobalima
Desa Alas Selatan  Kecamatan Kobalima Timur
-
Dari Atambua 60 km arah Selatan
-
Dari Atambua 63     km arah Selatan
-   Desa Alas Selatan  Kecamatan Kobalima Timur
-   Desa Litamali Kecamatan Kobalima Timur
-   Desa Fahiluka Kecamatan Malaka Tengah
-
-
-
Dari Atambua 65 km arah Selatan
Dari Atambua 76 km arah Selatan
Dari Atambua 70 km arah Selatan

6
Sumber Mata Air
-
Desa Haitimuk
-
Dari Atambua


 Weliman

Kecamatan Weliman

74 km arah Selatan

7
Pantai Abudenok
-
Desa Umato'os Kecamatan Malaka Barat
-
Dari Atambua 80 km arah Selatan

8
Pantai Beirasi
-
Desa Rabasa Kecamatan Malaka Barat
-
Dari Atambua 87 km arah Selatan

9
Pantai Taberek
-
Desa Alkani Kecamatan
Wewiku
-
Dari Atambua 90 km arah Selatan

10
Panorama Gunung Mandeu
-
Desa Teun Kec. Malaka Timur dan Desa Raimanus Kec. Raimanuk
-
Dari Atambua 35 km arah Selatan

11
Bendungan Benenain
-
Desa Kakaniuk Kecamatan Malaka Tengah
-
Dari Atambua 70 km arah Selatan









Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu

b.      Obyek Wisata Budaya
Tabel 3.3
Obyek Wisata budaya di Kabupaten Belu
No
Nama Obyek Wisata
Lokasi
Jalur-jalur serta Central Point Perjalanan Wisatawan
1
2
3
4

1
Perkampungan Adat Mata Besi
-
Desa Umanen Kecamatan
Atambua Barat
-
Dari Atambua 5 km arah Barat








2
Rumah Adat Leogatall
-
Desa Kewar Kecamatan
Lamaknen
-
Dari Atambua 45 km arah Timur



3
4
5
Perkampungan Adat Nualain
Rumah Adat Loro Dirma
Perkampungan Adat Kamanasa
-
-
-
Desa Nualain Kecamatan
Lamaknen Selatan
Desa Sanleo Kecamatan
Malaka Timur
Desa Kamanasa Kecamatan
Malaka Tengah
-
-
-
Dari Atambua 48 km arah Timur
Dari Atambua 45 km arah Selatan
Dari Atambua 60 km arah Selatan

6
Perkampungan Adat Tuaninu, Taisuni
-
Desa Kusa Kecamatan
Malaka Timur
-
Dari Atambua 34 km arah Selatan
                        Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu

c.       Atraksi Budaya
Tabel 3.4
Atraksi budaya Di Kabupaten Belu
No.
Jenis Atraksi
Lokasi
Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
1
2
3
4
                                      

1

Pagelaran Seni Budaya Belu

-

Atambua, Betun

Diadakan setahun sekali pada bulan Oktober


2

Upacara Adat Beimau

-

Desa Kamanasa Kecamatan
Malaka Tengah

Diadakan setahun sekali pada tanggal 2 November








3

Berburu Babi Hutan

-

Desa Kewar Kecamatan
Lamaknen

Diadakan setahun sekali pada bulan Juni


4

Upacara Tubilai

-

Desa Aitoun Kecamatan
Raiulun

Diadakan setahun sekali pada bulan April


5

Upacara Adat Rai Rate

-

Desa Aitoun Kecamatan
Raihat

iadakan setahun sekali pada bulan September
Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu

d.      Peninggalan Sejarah
Tabel 3.6
Peninggalan sejarah



No
Nama Obyek Wisata
Lokasi
Jalur-jalur serta Central Point Perjalanan Wisatawan
Ket

1
2
3
4
5


1



2

Benteng Makes Berlapis 7

Benteng Kota Mutin

-



-

Desa Dirun Kecamatan Lamaknen

Desa Lakanmau Kecamatan

-



-

Dari Atambua 28 km arah Timur


Dari Atambua 26 km arah Timur

Peninggalan Portugis


Peninggalan Portugis




Lasiolat





3

Meriam Peninggalan Portugis


-

Desa Lakanmau Kecamatan Lasiolat

-

Dari Atambua 26 km arah Timur

Peninggalan Portugis

4
Ksadan Takirin
-
Desa Takirin Kecamatan Tasifeto Timur

-
Dari Atambua 18 km arah Timur
Peninggalan Leluhur

5
Ksadan Fatubesi,
-
Desa Fatulotu
-
Dari Atambua 30 km arah Timur
Peninggalan Leluhur


Fatulotu

Kecamatan Lasiolat





6
Ksadan Sesurai
-
Desa Aitoun Kecamatan Raihat
-
Dari Atambua 39 km arah Timur
Peninggalan Leluhur

7


8
Ksadan Fulun Tas

Situs Lakan Tolu
-


-
Desa Fulur Kecamatan Lamaknen
Desa Naekasa Kecamatan Tasifeto Timur
-


-
Dari Atambua 41 km arah Timur

Dari Atambua 8 km arah Selatan
Peninggalan Leluhur

Peninggalan Leluhur



























S








Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu

e.       Wisata Religi Dan Tarian Daerah
Tabel 3.7
Wisata Religi
  

No.
Nama Obyek Wisata
Lokasi
Jalur-jalur serta Central Point Perjalanan Wisatawan

1
2
3
4

1
Gua Lourdes Betun
-
Desa Wehali Kecamatan Malaka Tengah
-
Dari Atambua 64 km arah Selatan








2
Gereja Tua Nualain
-
Desa Nualain Kecamatan Lamaknen Selatan
-
Dari Atambua 48 km arah Timur

3
Gereja Tua Lahurus
-
Desa Fatulolin Kecamatan Lasiolat
-
Dari Atambua 27 km arah Timur

Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu     

Tabel 3.8
Tarian Daerah  

No.
Jenis Kesenian
Lokasi
Jalur-jalur serta Central Point Perjalanan

1
Tarian Bidu


















2
*

Tarian Bidu Kikit
Tarian Bidu Tais Mutin
Desa Kenebibi Kec. Kakuluk mesak
Desa Weoe, Kec. Wewiku
-
-
Dari Atambua 24 km ke arah Utara
Dari Atambua 60 km ke arah selatan







Tarian Likurai



Foho
Desa Dirun Kec. Lamaknen
-
Dari Atambua 36 km ke arah Timur

3
4
Tarian Tala / Gong
Tarian Tebe
Desa haitimuk, Kec. Weliman
Bagian Utara Kabupaten Belu

-
-
Dari Atambua 65 km ke arah selatan
Tersebar Di Kecamatan-kecamatan












Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu.
f.       Aneka Produk Kerajinan
Tabel 3.9
Aneka Produk Kerajinan

No.
Nama Obyek Wisata
Lokasi
Jalur-jalur serta Central Point Perjalanan

1
Tenunan Daerah
-
Desa Umaklaran, Kec. Tasifeto Timur
-
Dari Atambua 7km Ke arah Utara



-
Desa Duarato Kec. Lamaknen
-
Dari Atambua 40km Ke arah Timur










-
Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah
-
Dari Atambua 60km ke arah selatan

2
3
4
Kerajinan Gerabah
Kerajianan Anyaman Tas
Kerajinan Dari Batu Marmer
-
-
-
Desa Webriamata, Kec wewiku
Desa Tukuneno. Kecamatan Tasifeto Barat
Desa Sanleo Kec.
Wewiku Kabupaten Belu
-
-
-
Dari Atambua 70 Km ke arah Selatan
Dari Atambua 7 Km ke arah barat
Dari Atambua
35 km arah Selatan

5
Kerajinan Ukiran dari Kayu Cendana
-
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Belu
-
Pusat Kota Atambua

Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu.

g.      Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Belu
Perkembangan pariwisata di Kabupaten Belu dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dengan banyaknya kunjungan wisatawan ke Kabupaten Belu, semakin menambah pemasukan / devisa bagi daerah dan hal ini harus dipertahankan. Faktor yang mempengaruhi perkembangan pariwisata serta pengunjung yang ada , antara lain : Kondisi keamanan daerah tempat rekreasi.

h.      Tingkat Kunjungan Wisata
Terjadi peningkatan perlahan pada arus kunjungan wisatawan di Kabupaten Belu. Hal ini dilihat pada tabel jumlah kunjungan wisatawan.
Table 3.10
Data kunjungan wisatawan di Kabupaten Belu.



No

BULAN
JUMLAH NUSANTARA + MANCANEGARA
2005
2006
2007
2008
2009
1
JANUARI
246
542
519
415
216
2
FEBRUARI
82
393
589
89
152
3
MARET
246
158
491
218
211
4
APRIL
392
369
513
456
2,019
5
MEI
169
388
442
569
2,175
6
JUNI
199
143
503
284
1,774
7
JULI
202
165
418
544
1,860
8
AGUSTUS
132
191
352
402
520
9
SEPTEMBER
174
157
486
346
2,713
10
OKTOBER
72
10
355
3,368
2,195
11
NOPEMBER
20
113
318
3,689
251
12
DESEMBER
55
128
371
306
150

TOTAL
1,989
2,757
5,357
11,468
14,236
Sumber ; Dinas Pariwisata Kabupaten Belu.

Selain wisatawan domestic dan mancanegara perlu juga diketahui peningkatan pertumbuhan penduduk wilayah perkotaan atambua. Hal ini dikarenakan penduduk perkotaan sering memanfaatkan waktu liburan ke daerah obyek wisata. Untuk mengetahui pertumbuhan penduduk wilayah perkotaan dapat dilihat pada tabel berikut;

Table 3.12
Data kunjungan wisatawan di Kabupaten Belu

NO
KECAMATAN
TAHUN
2005
2006
2007
2008
2009
1
KAKULUK MESAK
14.916
16.597
16.021
17.422
18.610
2
KOTA ATAMBUA
66.316
73.794
26.123
26.123
25.743
3
ATAMBUA BARAT
-
-
23.045
24.272
22.743
4
ATAMBUA SELATAN
-
-
19.939
21.042
26.090
5
JUMLAH
81.232
90.391
85.128
88.859
93.186
Sumber ; Badan Pusat Statistik Propinsi NTT

 Tinjauan Khusus (Umalor-Umato’os)

     Pada bagian ini akan dibahas secara khusus tinjauan objek study, yakni desa adat Umatoos dan Umalor. Kedua desa ini letaknya saling berdampingan. Dalam tatanan adat, kedua wilayah ini adalah satu kesatuan, karena merupakan bagian dari wilayah kerajaan Liurai Keraton Umalor. Yang  melingkupi beberapa wilayah,  diantaranya adalah:
a.         Wilayah Umato’os, dipimpin oleh Dato Tamiru.
b.        Wilayah Kalisuklor, dipimpin oleh Dato Kaletek Bulu As.
c.         Wilayah Kalisuk Krae, dipimpin oleh Dato Kalisuk, dan.
d.        Wilayah Motaulun, yang dipimpin oleh Dato Mota.
Umato’os yang dipimpin oleh Dato Tamiru (Raja Luar) dalam tatanan adat memiliki kedudukkan yang lebih tinggi dari ketiga Dato (Raja Luar) lainnya. Segala urusan dari ketiga Dato (Raja Luar) yang berhubungan dengan keraton harus melalui ijin Dato Tamiru, artinya sebelum menuju Tafatik (Keraton) Kaberan Rai harus melalui Dato Tamiru (Umato’os). Untuk lebih jelas dalam memahami Umalor-Umato’os maka berikut akan dijebarkan dalam beberapa kelompok pembahasan.

Administratif Dan Geografis
a.         Batas-batas wilayah
1.      Umatoos
Utara                              : Desa Lasaen
Selatan                           : Laut Timor
Timur                             : Desa Motaain
Barat                              : Desa umalor

2.      Umalor
Utara                              : Desa Lasaen
Selatan                           : Desa Umatoos dan Desa Rebasahain
Timur                             : Desa Lasaen dan Desa Umatoos
Barat                              : Desa Raimataus

b.        Luas administratif
-   Umalor
Luas wilayah administratif Umalor adalah 3.4 km², dengan jumlah kepala keluarga (KK) adalah 409 yang terdiri dari 4 dusun, 13 RT dan 7 RW. (Badan Pusat Statistik, 2010)
-   Umato’os
Luas wilayah administratif wilayah Umato-os adalah  12 km², dengan jumlah penduduk adalah 2870 jiwa, yang terdiri dari 776 KK (kepala keluarga). wilayah tersebut dibagi dalam 6 dusun, 12 RW dan 24 RT. (Badan Pusat Statistik, 2010)

c.         Kondisi Topologi
Wilayah Umalor dan Umato’os merupakan daerah dataran rendah dengan kemiringan tanah rata- rata 0 – 5%. Dengan kondisi topologi yang demikian, kedua daerah ini sering dilanda banjir, khususnya banjir bandang. Alasan mengapa masyarakat setempat menggunakan rumah panggung, salah satunya adalah untuk mengurangi resiko pengaruh banjir.
d.        Geologi
Karakteristik Tanah pada wilayah Umalor dan Umato’os tidak jauh berbeda dengan karakteristik tanah paha wilayah belu selatan pada umumnya, yakni merupakan tanah Alluvial yang sangat subur dan cocok untuk daerah pertanian. Dengan kondisi yang demikian, maka tidak heran jika pertanian merupakan prioritas utama masyarakat setempat.
e.         Hidrologis
Kondisi air tanah pada wilayah Umalor dan Umato’os memiliki kesamaan yakni merupakan daerah air tanah bebas yang umumnya dangkal dan mengikuti kondisi morfologinya. Kondisi air tanah bebas seperti yang dijumpai pada kedua wilayah ini dikarenakan letaknya yang tidak begitu jauh dari pantai dan merupakan daerah endapan alluvial.
Asal usul kampung
-            Umalor
Berdasarkan asal katanya, kata Umalor terdiri dari dua buah suku kata yakni uma (rumah) dan lor (pintu depan). Istilah uma (rumah) dan lor (pintu depan) diawali dari peristiwa mistic yang terjadi saat pertama kali nenek moyang masyarakat Umlor menginjakkan kakinya di wilayah tersebut. Berdasarkan kisah yang diceritakan secara turun temurun dan di diyakini kebenarannya, bahwa ketika nenek moyang mereka datang, secara misterius muncul dihadapan mereka sebuah uma. Karena merasa membutuhkan, tanpa memelui suatu pertimbangan mereka masuk kedalam rumah tersebut melalui lor. Dalam Tefatik Kaberan Rai Uamlor terdapat dua rumah adat

-            Umato’os
Dalam tatanan  adat, wilayah Umato’os merupakan bagian dari keraton Umalor. Penguasa tertinggi wilayah Umatoos dipegang oleh seorang Dato (Dato Tamiru) yang adalah salah seorang bawahan keraton Kaberan Rai. Jika dilihat secara harafiah, kata Umatoos (rumah kebun) merupakan penggabungan dari dua buah kata, yakni uma (rumah) dan To’os (kebun). Hal yang melandasi penggunaan nama tersebut adalah suatu realitas bahwa, sebelum berkembang menjadi sebuah kampung, keseluruhan wilayah Umato’os adalah kebun (to’os)  milik Keraton Kaberan Rai yang dimandati oleh salah seorang Dato (Dato Tamiru). Untuk menampung hasil panen, mereka mendirikan sebuah rumah (uma) sebagai tempat penampungan sementara, sebelum hasil panen tersebut diantar sebagai persembahan kepada raja. Uma yang didirikan sebagai tempat penampungan sementara hasil panen tersebut juga berfungsi sebagai tempat tinggal para penjaganya. Umato’os memiliki 1 desa tuan adat yakni Dato Tamiru, yang membawahi  empat kampung. Masing-masing kampung terdiri dari beberapa fukun atau suku. Keempat kampung yang dimaksud antara lain adalah:
1.        Kampung Umatoos, terdiri dari empat fukun, yakni
·           Fukun Laetua
·           Fukun Katuas
·           Fukun Mamulak
·           Fukun Marik
2.        Kampung Lamotalalawar, terditi dari empat Fukun, yakni
·           Fukun Laetua
·           Fukun Katuas
·           Fukun Robe
·           Fukun Me’ar
3.        Kampung Lo’omotabesin, terdiri dari 5 fukun, yakni
·           Fukun Mota Kranek
·           Fukun Katuas
·           Fukun mamulak
·           Fukun lo’o Ki’ik
·           Fukun Lo’o Kawaik
4.        Kampung Lo’o Fun
·           Fukun Lae Tua
·           Fukun Katuas
·           Fukun Mamulak
·           Fukun Katuas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar